Berikut beragam kehidupan masyarakat Desa Sade
1. Agama
Dahulu
kala, agama Islam yang dijalankan oleh suku Sasak sedikit berbeda
dengan ajaran agama Islam secara umum. Agama Islam mereka masih
terpengaruh agama Budha dan Hindu. Namun, saat ini penduduk Desa Sade
telah menjalankan sholat lima waktu.
2. Tradisi di dalam pernikahan
Terdapat
sebuah tradisi unik sebelum seorang pria melamar wanita yang menjadi
buah hatinya. Calon pengantin pria akan menculik sang buah hati pada
malam hari. Wanita tersebut akan dipulangkan ke rumah orang tuanya pada
esok pagi atau setelah beberapa hari untuk dilamar.
Tradisi ini
adalah sesuatu hal yang romantis bagi mereka yang saling mencintai.
Namun, jika sang wanita tidak mencintai si penculik, maka itu adalah
sebuah kesedihan baginya.
Orang tua perempuan tidak bisa menolak
lamaran sang penculik, karena jika ditolak akan berakibat buruk bagi
sang putri dimana di kemudian hari tidak ada laki-laki yang mau
melamarnya.
3. Keahlian dalam menenun
Berdasarkan
pada aturan masa lalu, seorang gadis belum boleh menikah jika tidak
bisa menenun. Keahlian dalam menenun merupakan simbol kemandirian dimana
seorang wanita siap untuk berumah tangga.
Akan tetapi, saat ini
peraturan tersebut tidak berlaku. Seorang wanita yang telah berumur 17
tahun dianggap telah siap untuk menikah.
Untuk
membuat selembar kain songket khas Lombok, dibutuhkan waktu antara 1
minggu sampai dengan 1 bulan. Lamanya waktu tergantung dari warna,
kerumitan corak, dan ukuran dari songket tersebut.
Alat yang
digunakan masih manual dan terbuat dari kayu. Bahkan, benang yang akan
dipakai adalah hasil dari proses pemintalan kapas dan dilakukan sendiri
oleh mereka dengan menggunakan alat pintal kayu sederhana.
Pewarnaan pada benang berasal dari aneka tumbuhan seperti warna biru dari buah mangkudu dan warna kuning dihasilkan dari kunyit.
Di kawasan wisata ini, Anda juga berkesempatan untuk belajar menenun kain.
4. Mata Pencaharian
Mayoritas
kaum laki-laki Desa Sade berprofesi sebagai petani atau bekerja di luar
desa, sedangkan kaum perempuan akan membantu mencari nafkah dengan cara
menenun, baik itu tenun songket ataupun tenun ikat.
Harga dari
kain ini begitu beragam yaitu antara Rp 50.000 hingga ratusan ribu
rupiah. Harga tersebut tergantung dari tingkat kerumitan, warna, dan
waktu yang dibutuhkan untuk membuatnya.
Selain itu, keahlian Anda
dalam menawar harga juga sangat berpengaruh. Selama berada di Desa Sade,
wisatawan dapat dengan mudah menjumpai hasil karya mereka yang dipajang
di hampir setiap rumah.
Selain menenun, perempuan di Desa Sade
juga membuat aneka assesoris wanita sepeti kalung, gelang, anting, dan
juga cincin. Aneka assesoris ini begitu cantik dan kaya warna.
5. Kesenian khas Desa Sade
Beberapa
kesenian khas Desa Sade antara lain kesenian Gendang Beleq, Tarian
Oncer dan Peresehan. Pada zaman dahulu, kesenian Gendang Beleq sering
dipertunjukkan di hadapan raja sebagai bentuk untuk mengantar pasukan
yang akan berangkat ke medan perang.
Sedangkan
Peresehan adalah tradisi perkelahian antara 2 orang pria dengan
bersenjatakan tongkat rotan serta dilengkapi oleh perisai yang terbuat
dari kulit sapi.
Tradisi Peresehan ini mirip dengan tradisi Mekare-kare (perang pandan) di Desa Tenganan Pegeringsingan Bali.
sumber: http://www.pergiberwisata.com/masyarakat-desa-sade/



Tidak ada komentar:
Posting Komentar