Senin, 12 September 2016

kehidupan desa sade

 Berikut beragam kehidupan masyarakat Desa Sade

   1. Agama
Dahulu kala, agama Islam yang dijalankan oleh suku Sasak sedikit berbeda dengan ajaran agama Islam secara umum. Agama Islam mereka masih terpengaruh agama Budha dan Hindu. Namun, saat ini penduduk Desa Sade telah menjalankan sholat lima waktu.

    2. Tradisi di dalam pernikahan
Terdapat sebuah tradisi unik sebelum seorang pria melamar wanita yang menjadi buah hatinya. Calon pengantin pria akan menculik sang buah hati pada malam hari. Wanita tersebut akan dipulangkan ke rumah orang tuanya pada esok pagi atau setelah beberapa hari untuk dilamar.
Tradisi ini adalah sesuatu hal yang romantis bagi mereka yang saling mencintai. Namun, jika sang wanita tidak mencintai si penculik, maka itu adalah sebuah kesedihan baginya.
Orang tua perempuan tidak bisa menolak lamaran sang penculik, karena jika ditolak akan berakibat buruk bagi sang putri dimana di kemudian hari tidak ada laki-laki yang mau melamarnya.


   3. Keahlian dalam menenun
Berdasarkan pada aturan masa lalu, seorang gadis belum boleh menikah jika tidak bisa menenun. Keahlian dalam menenun merupakan simbol kemandirian dimana seorang wanita siap untuk berumah tangga.
Akan tetapi, saat ini peraturan tersebut tidak berlaku. Seorang wanita yang telah berumur 17 tahun dianggap telah siap untuk menikah.
Untuk membuat selembar kain songket khas Lombok, dibutuhkan waktu antara 1 minggu sampai dengan 1 bulan. Lamanya waktu tergantung dari warna, kerumitan corak, dan ukuran dari songket tersebut.



Alat yang digunakan masih manual dan terbuat dari kayu. Bahkan, benang yang akan dipakai adalah hasil dari proses pemintalan kapas dan dilakukan sendiri oleh mereka dengan menggunakan alat pintal kayu sederhana.
Pewarnaan pada benang berasal dari aneka tumbuhan seperti warna biru dari buah mangkudu dan warna kuning dihasilkan dari kunyit.
Di kawasan wisata ini, Anda juga berkesempatan untuk belajar menenun kain.

   4. Mata Pencaharian
Mayoritas kaum laki-laki Desa Sade berprofesi sebagai petani atau bekerja di luar desa, sedangkan kaum perempuan akan membantu mencari nafkah dengan cara menenun, baik itu tenun songket ataupun tenun ikat.
Harga dari kain ini begitu beragam yaitu antara Rp 50.000 hingga ratusan ribu rupiah. Harga tersebut tergantung dari tingkat kerumitan, warna, dan waktu yang dibutuhkan untuk membuatnya.
Selain itu, keahlian Anda dalam menawar harga juga sangat berpengaruh. Selama berada di Desa Sade, wisatawan dapat dengan mudah menjumpai hasil karya mereka yang dipajang di hampir setiap rumah.
Selain menenun, perempuan di Desa Sade juga membuat aneka assesoris wanita sepeti kalung, gelang, anting, dan juga cincin. Aneka assesoris ini begitu cantik dan kaya warna. 

   5. Kesenian khas Desa Sade
Beberapa kesenian khas Desa Sade antara lain kesenian Gendang Beleq, Tarian Oncer dan Peresehan. Pada zaman dahulu, kesenian Gendang Beleq sering dipertunjukkan di hadapan raja sebagai bentuk untuk mengantar pasukan yang akan berangkat ke medan perang.




Sedangkan Peresehan adalah tradisi perkelahian antara 2 orang pria dengan bersenjatakan tongkat rotan serta dilengkapi oleh perisai yang terbuat dari kulit sapi.
Tradisi Peresehan ini mirip dengan tradisi Mekare-kare (perang pandan) di Desa Tenganan Pegeringsingan Bali.

sumber: http://www.pergiberwisata.com/masyarakat-desa-sade/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar